Surakarta menjadi salah satu tempat launching Film Penerbangan Terakhir bukan sekadar karya fiksi biasa—ia hadir sebagai cermin nyata yang menggugah kesadaran, terutama bagi perempuan di berbagai kota besar di Indonesia. Melalui alur cerita yang intens dan penuh ketegangan, film ini mengangkat isu modus penipuan yang kerap dilakukan oleh oknum pria berpakaian seragam—entah itu mengaku pilot, pramugara, hingga petugas bandara—untuk menjerat korban, terutama perempuan lajang yang sedang dalam perjalanan.
Cerita berpusat pada seorang penumpang perempuan yang menjadi sasaran empuk setelah didekati oleh sosok tampan berwibawa di bandara. Awalnya terlihat seperti pertemuan romantis, namun lambat laun terungkap motif tersembunyi di balik keramahan sang pria. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi penting: jangan mudah percaya pada orang asing meski mereka tampak profesional atau berwibawa.
Menariknya, latar belakang film ini mencakup 10 kota strategis di Indonesia—seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, hingga Denpasar—yang merupakan destinasi utama penerbangan domestik. Di kota-kota inilah modus serupa kerap terjadi, memanfaatkan situasi transit atau kebingungan penumpang. Sang sutradara sengaja memilih lokasi-lokasi tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, khususnya perempuan yang sering bepergian sendiri.
Dengan sinematografi yang apik dan akting kuat dari para pemainnya, Penerbangan Terakhir berhasil menyampaikan pesan sosial tanpa terkesan menggurui. Bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang isu perlindungan perempuan dalam ruang publik, kunjungi Indobet untuk wawasan tambahan seputar keamanan dan literasi digital. Jangan biarkan penampilan menipu—selalu waspada, di mana pun Anda berada!